BAB
1. PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Salah satu
upaya yang akan dilakukan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 2010 adalah
meningkatkan kesehatan khususnya upaya untuk meningkatkan kesehatan ibu.
Keberhasilan upaya tersebut dapat dilihat dari penurunan angka kematian ibu,
karena upaya penurunan angka kematian ibu serta peningkatan derajat kesehatan
ibu tetap merupakan prioritas utama dalam pembangunan kesehatan menuju
tercapainya Indonesia Sehat 2010.
Masih
banyak kematian ibu terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia, walaupun
upaya untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) sudah banyak dilakukan tetapi
hasilnya belum optimal. Sebab utama lambatnya penurunan angka kematian ibu,
antara lain terlalu banyaknya kegiatan yang dilaksanakan dengan sumber daya
yang terbatas dan belum optimalnya kualitas pelayanan yang disediakan baik oleh
fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta. Sehingga dimasa mendatang perlu
ditetapkan dan dilaksanakan kegiatan prioritas yang mempunyai dampak langsung
terhadap penurunan kematian ibu berdasarkan permasalahan yang ada.
Pemerintah
Indonesia mengharapkan pada tahun 2010 dapat menurunkan Angka Kematian Ibu
(AKI) menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup. Untuk dapat mencapai target
tersebut diperlukan usaha yang tidak mudah karena berdasarkan Survei Demografi
dan Kesehatan Indonesia (SDKI) adalah 307 per 100.000 kelahiran hidup sedangkan
Angka Kematian Bayi (AKB) tahun 2003 tercatat 35 per 1000 kelahiran
hidup. Angka kematian ibu dan bayi adalah yang tertinggi di Asia Tenggara.Pemerintah
menargetkan pada tahun 2009 AKI menjadi 226 per 1000 kelahiran hidup. Sebagai
penyebab kematian ibu yang terbanyak adalah disebabkan oleh komplikasi
obstetri seperti perdarahan yaitu sebesar 28 %, hipertensi pada
kehamilan sebesar 13 %, komplikasi abortus sebesar 11 %, infeksi / sepsis
sebesar 10 % dan partus lama sebesar 9 %.
Infeksi
sebagai salah satu penyebab kematian ibu dapat terjadi selama masa kehamilan,
persalinan dan nifas.Salah satu bentuk infeksi yang terjadi dalam masa nifas adalah
infeksi yang terjadi pada payudara yaitu mastitis.Hal ini dapat dideteksi dini,
dicegah maupun ditanggulangi agar tidak terjadi komplikasi yang lebih
lanjut.Komplikasi yang biasanya timbul yaitu mastitis.
Mastitis
adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan biasanya mengenai
payudara.Umumnya gangguan ini dialami oleh ibu-ibu yang menyusui.Biasanya
muncul antara minggu kedua sampai keenam setelah persalinan.Namun, masalah ini
juga dapat muncul lebih awal dari waktu tersebut atau lebih lama lagi.
Semakin
disadari bahwa pengeluaran ASI yang tidak efisien akibat teknik menyusui yang
tidak benar menunjukkan penyebab yang penting, tetapi dalam pikiran banyak
petugas tenaga kesehatan, mastitis dianggap sama dengan infeksi payudara.
Mereka sering tidak mampu membantu wanita penderita mastitis untuk menyusui
yang sebenarnya tidak perlu.Ada 2 penyebab utama mastitis yaitu statis ASI yang
infeksi statis ASI biasanya menunjukkan penyebab primer yang dapat disertai /
berkembang menuju infeksi.
Adapun
penyebab mastitis adalah cara menyusui yang kurang baik dapat menimbulkan
berbagai macam masalah baik pada ibu maupun pada bayinya misalnya puting susu
lecet dan nyeri, radang payudara (mastitis), pembengkakan payudara yang
menyebabkan motivasi untuk memberikan ASI berkurang sehingga bayi tidak
mendapatkan ASI yang cukup dan akhirnya mengakibatkan bayi kurang gizi.
Cara
menyusui yang baik, penting sekali untuk keberhasilan menyusui, praktek cara
menyusui yang baik dan benar perlu dipelajari oleh setiap ibu karena menyusui
itu bukan salah satu hal yang reflektif dan instingtif, tetapi merupakan suatu
proses. Proses menyusui yang baik bukan hanya untuk ibu yang baru pertama kali
melahirkan, tetapi juga untuk ibu yang pernah menyusui anaknya.
Studi
terbaru menunjukkan kasus mastitis meningkat hingga 12 – 35 % pada ibu yang
puting susunya pecah-pecah dan tidak diobati dengan antibiotik.Namun bila minum
obat antibiotik pada saat puting susunya bermasalah kemungkinan untuk terkena
mastitis hanya sekitar 5 % saja. Menurut penelitian Jane A. Morton, MD tahun
2002,bahwa kasus mastitis terjadi pada tahun pertama sesuai persalinan yakni
sekitar 17,4 % dan sekitar 41 %. Kasus mastitis justru terjadi pada bulan
pertama setelah melahirkan.
Penelitian
terbaru menyatakan bahwa mastitis dapat meningkatkan risiko penularan HIV
melalui menyusui. Mastitis dan abses payudara dapat terjadi pada semua
populasi, dengan tanpa kebiasaan menyusui, tetapi biasanya dibawah 10 %
sebagian besar laporan menunjukkan bahwa 75 % sampai 95 % kasus terjadi dalam
12 minggu pertama.
Berdasarkan
hasil penelitian persentasi cakupan perempuan menyusui dengan mastitis di
Amerika Serikat dari tahun 1994 – 1998 terdapat ibu post partum didapatkan 9,5
% melaporkan dirinya mastitis.
Menurut
data WHO Indonesia sebagai salah satu negara berkembang di dunia cakupan
persentasi kasus mastitis pada perempuan menyusui juga mencapai 10 %. Sedangkan
Angka Kematian Ibu di Jawa Tengah pada tahun 2007 yaitu 116,3 per kelahiran
hidup dan Angka Kematian Bayi 10,9 per kelahiran hidup.
1.2
Tujuan
Penulis makalah ini memiliki
beberapa tujuan, antara lain:
1) Mengetahui
konsep dari penyakit mastitis yang menyerang payudara.
2) Mempelajari
patofisiologi gambaran penyakit mastitis secara menyeluruh.
3) Mengetahui
implikasi patosiologi penyakit mastitis dalam bidang keperawatan dan peranan
keperawatan terhadap penyakit tersebut.
1.3
Manfaat
1)
Dapat memahami konsep mastitis yang
menyerang payudara.
2)
Dapat memahami Patofisiologi gambaran
penyakit mastitis secara menyeluruh.
3)
Dapat menjalankan implikasi
patofisiologi mastitis dalam bidang keperawatan dan dapat memahami peranan
keperawatan dalam menghadapi penyakit tersebut.
BAB
2. KONSEP PENYAKIT
2.1
Definisi
Mastitis
adalah peradangan pada payudara yang dapat disertai infeksi atau tidak, yang
disebabkan oleh kuman terutama Staphylococcus aureus melalui luka pada puting
susu atau melalui peredaran darah. Penyakit ini biasanya menyertai laktasi,
sehingga disebut juga mastitis laktasional atau mastitis
puerperalis. Infeksi terjadi melalui luka pada puting susu, tetapi mungkin
juga melalui peredaran darah. Kadang-kadang keadaan ini bisa menjadi fatal bila
tidak diberi tindakan yang adekuat.
Abses
payudara, penggumpalan nanah lokal di dalam payudara, merupakan komplikasi
berat dari mastitis. Macam-macam mastitis dibedakan berdasarkan tempatnya
serta berdasarkan penyebab dan kondisinya.Mastitis berdasarkan tempatnya
dibedakan menjadi 3, yaitu:
a.
Mastitis
yang menyebabkan abses di bawah areola mammae
b.
Mastitis
di tengah-tengah mammae yang menyebabkan abses di tempat itu
c.
Mastitis
pada jaringan di bawah dorsal dari kelenjar-kelenjar yang menyebabkan abses
antara mammae dan otot-otot di bawahnya.
Sedangkan
pembagian mastitis menurut kondisinya dibagi pula menjadi 3, yaitu :
a.
Mastitis
periductal
Mastitis
periductal biasanya muncul pada wanita di usia menjelang menopause, penyebab
utamanya tidak jelas diketahui. Keadaan ini dikenal juga dengan sebutan mammary
duct ectasia, yang berarti peleburan saluran karena adanya penyumbatan pada
saluran di payudara.
b.
Mastitis
puerperalis/lactational
Mastitis puerperalis banyak dialami
oleh wanita hamil atau menyusui.Penyebab utama mastitis puerperalis yaitu kuman
yang menginfeksi payudara ibu, yang ditransmisi ke puting ibu melalui kontak
langsung.
c.
Mastitis
supurativa
Mastitis
supurativa paling banyak dijumpai.Penyebabnya bisa dari kuman Staphylococcus,
jamur, kuman TBC dan juga sifilis.Infeksi kuman TBC memerlukan penanganan yang
ekstra intensif.Bila penanganannya tidak tuntas, bisa menyebabkan pengangkatan
payudara/mastektomi.
Berdasarkan
etiloginya:
a. Mastitis karena stasis ASI/ non
infeksiosa
b. Mastitis infeksiosaà yang
paling sering adalah Staphylococcus aureus dan Streptococcus.
Klasifikasi
lain:
a. Mastitis puerperalis epidemic
b. Mastitis monensiosa
c. Mastitis sublkinis
d. Mastitis tuberkulosis
2.2
Etimologi
Penyebab
utama mastitis adalah statis ASI dan infeksi.Statis ASI biasanya merupakan
penyebab primer yang dapat disertai atau menyebabkan infeksi.
1.
Statis ASI
Statis ASI
terjadi jika ASI tidak dikeluarkan dengan efisien dari payudara. Hal ini
terjadi jika payudara terbendung segera setelah melahirkan, atau setiap saat
jika bayi tidak mengisap ASI, kenyutan bayi yang buruk pada payudara,
pengisapan yang tidak efektif, pembatasan frekuensi/durasi menyusui, sumbatan
pada saluran ASI, suplai ASI yang sangat berlebihan dan menyusui untuk kembar
dua/lebih.
2. Infeksi
Organismen
yang paling sering ditemukan pada mastitis dan abses payudara adalah organisme
koagulase-positif Staphylococcus aureus dan Staphylococcus albus.Escherichia
coli dan Streptococcus kadang-kadang juga ditemukan.Mastitis jarang ditemukan
sebagai komplikasi demam tifoid.
2.3
Epidemiologi
a. Insiden
Penelitian di
seluruh dunia dalam 10 tahun terakhir menunjukkan kejadian mastitis laktasi
berkisar 4-27% wanita menyusui tergantung pada metode, terutama subjek seleksi,
yang digunakan dalam studi ini. Mastitis terjadi pada semua populasi, dengan
atau tanpa kebiasaan menyusui.Insiden yang di laporkan bervariasidari sedikit
sampai 33% wanita menyusui, tetapi biasanya di bawah 10%.
b. Mula
Timbul
Mastitis laktasi
dapat berkembang pada minggu-minggu awal pasca kelahiran setelah ibu
meninggalkan rumah sakit. Mastitis paling sering terjadi pada minggu kedua dan
ketiga pasca kelahiran, dengan sebagian besar laporan menunjukkan bahwa 74%
sampai 95% kasus terjadi dalam 12 minggu pertama. Namun sekitar sepertiga dari
kasusu-kasus ibu menyusui jangka panjang terjadi setelah bayi berusia 6 blan.
2.4
Patogenesisi/Patofisiologi
Stasis ASI
peningkatan tekanan duktusà jika ASI tidak segera dikeluarkanà peningkatan
tegangan alveoli yang berlebihanà sel epitel yang memproduksi ASI menjadi datar dan tertekanà permeabilitas jaringan ikat
meningkatà beberapa komponen(terutama protein dan kekebalan tubuh dan natrium)
yang retak ke kelenjar limfe sekitar duktus/ periduktal dan secara hematogen.dari
plasma masuk ke dalam ASI dan jaringan sekitar selà memicu rrespon imunà respon
inflmasià kerusakan jaringanà mempermudah terjadinya infeksi (Staohylococcus
aureus dan Sterptococcus) Ã dari port d’ entry yaitu: duktus laktiferus ke lobus
sekresi dan putting.
Terjadinya
mastitis diawali dengan peningkatan tekanan di dalam duktus (saluran ASI)
akibat stasis ASI.Bila ASI tidak segera dikeluarkan maka terjadi tegangan alveoli
yang berlebihan dan mengakibatkan sel epitel yang memproduksi ASI menjadi datar
dan tertekan, sehingga permeabilitas jaringan ikat meningkat.Beberapa komponen
(terutama protein kekebalan tubuh dan natrium) dari plasma masuk ke dalam ASI
dan selanjutnya ke jaringan sekitar sel sehingga memicu respons imun.Stasis
ASI, adanya respons inflamasi, dan kerusakan jaringan memudahkan terjadinya
infeksi.
Terdapat
beberapa cara masuknya kuman yaitu melalui duktus laktiferus ke lobus sekresi,
melalui puting yang retak ke kelenjar limfe sekitar duktus (periduktal) atau
melalui penyebaran hematogen pembuluh darah). Organisme yang paling
sering adalah Staphylococcus aureus, Escherecia coli dan Streptococcus.Kadang-kadang
ditemukan pula mastitis tuberkulosis yang menyebabkan bayi dapat menderita
tuberkulosa tonsil.Pada daerah endemis tuberkulosa kejadian mastitis
tuberkulosis mencapai 1%.
2.5
Manifestasi
Klinis
1.
Gejala
mastitis infeksiosa
a.
Lemah,
mialgia, nyeri kepala seperti gejala flu dan ada juga yang di sertai takikardia
b.
Demam
suhu > 38,5 derajat celcius
c.
Ada
luka pada puting payudara
d.
Kulit
payudara kemerahan atau mengkilat
e.
Terasa
keras dan tegang
f.
Payudara
membengkak, mengeras, lebih hangat, kemerahan yang berbatas tegas
g.
Peningkatan
kadar natrium sehingga bayi tidak mau menyusu karena ASI yang terasa asin
2.
Gejala
mastitis non infeksiosa
a.
Adanya
bercak panas/nyeri tekan yang akut
b.
Bercak
kecil keras yang nyeri tekan saja
c.
Tidak
ada demam dan ibu masih merasa naik-baik.
2.6
Komplikasi
1. Penghentian
menyusui dini
Mastitis dapat menimbulkan berbagai gejala akut yang membuat
seorang ibu memutuskan untuk berhenti menyusui.Penghentian menyusui secara
mendadak dapat meningkatkan risiko terjadinya abses.Selain itu ibu juga
khawatir kalau obat yang mereka konsumsi tidak aman untuk bayi mereka.Oleh
karena itu penatalaksanaan yang efektif, informasi yang jelas dan dukungan
tenaga kesehatan dan keluarga sangat diperlukan saat ini.
2. Abses
Abses merupakan komplikasi mastitis yang biasanya terjadi
karena pengobatan terlambat atau tidak adekuat. Bila terdapat daerah payudara
teraba keras , merah dan tegang walaupun ibu telah diterapi, maka kita harus
pikirkan kemungkinan terjadinya abses. Kurang lebih 3% dari kejadian mastitis
berlanjut menjadi abses.Pemeriksaan USG payudara diperlukan untuk mengidentifikasi
adanya cairan yang terkumpul.Cairan ini dapat dikeluarkan dengan aspirasi jarum
halus yang berfungsi sebagai diagnostik sekaligus terapi, bahkan mungkin
diperlukan aspirasi jarum secara serial.Pada abses yang sangat besar terkadang
diperlukan tindakan bedah.Selama tindakan ini dilakukan ibu harus mendapat
antibiotik.ASI dari sekitar tempat abses juga perlu dikultur agar antibiotik
yang diberikan sesuai dengan jenis kumannya.
3. Mastitis
berulang/kronis
Mastitis berulang biasanya disebabkan karena pengobatan
terlambat atau tidak adekuat.Ibu harus benar-benar beristirahat, banyak minum,
makanan dengan gizi berimbang, serta mengatasi stress. Pada kasus mastitis
berulang karena infeksi bakteri diberikan antibiotik dosis rendah (eritromisin
500 mg sekali sehari) selama masa menyusui
4. Infeksi
jamur
Komplikasi sekunder pada mastitis berulang adalah infeksi
oleh jamur seperti candida albicans.Keadaan ini sering ditemukan setelah ibu
mendapat terapi antibiotik.Infeksi jamur biasanya didiagnosis berdasarkan nyeri
berupa rasa terbakar yang menjalar di sepanjang saluran ASI.Di antara waktu
menyusu permukaan payudara terasa gatal.Puting mungkin tidak nampak
kelainan.Ibu dan bayi perlu diobati. Pengobatan terbaik adalah mengoles
nistatin krem yang juga mengandung kortison ke puting dan areola setiap selesai
bayi menyusu dan bayi juga harus diberi nistatin oral pada saat yang sama.
2.7
Pencegahan
1. Perbaikan pemahaman penatalaksanaan
menyusui
a. Menyusui sidini mungkin setelah
melahirkan
b. Menyusui dengan posisi yang benar
c. Memberikan ASI On Demand dan
memberikan ASI eklusif
d. Makan dengan gizi yang seimbang
Hal-hal
yang mengaggu proses menyusui, membatasi, mengurangi isapan proses menyusui dan
meningkatkan statis ASI antara lain :
a.
Pengunaan
dot
b.
Pemberian
minuman lain pada bayi pada bulan-bulan pertama
c.
Tindakan
melepaskan mulut bayi dari payudara pertama sebelum ia siap untuk menghisap
payudara yang lain.
d.
Beban
kerja yang berat atau penuh tekanan
e.
Kealpaan
menyusui bila bayi mulai tidur sepanjang malam
f.
Trauma
payudara karena tindakan kekerasan atau penyebab lain.
2. Penatalaksaan yang efektif pada
payudara yang penuh dan kencang
Hal-hal
yang harus dilakukan yaitu :
a. Ibu harus dibantu untuk memperbaiki
kenyutan pada payudara oleh bayinya untuk memperbaiki pengeluaran ASI serta
mencegah luka pada punting susu.
b. Ibu harus didorong untuk menyusui
sesering mungkin dan selama bayi menghendaki tanpa batas.
c. Perawatan payudara dengan dikompres
dengan air hangat dan pemerasan ASI.
3. Perhatian dini terhadap semua tanda
statis ASI
Ibu harus memeriksa payudaranya
untuk melihat adanya benjolan, nyeri/panas/kemerahan :
a. Bila ibu mempunyai salah satu faktor
resiko, seperti kealpaan menyusui.
b. Bila ibu mengalami demam/merasa
sakit, seperti sakit kepala.
Bila ibu
mempunyai satu dari tanda-tanda tersebut, maka ibu perlu untuk :
a. Beristirahat, di tempat tidur bila
mungkin.
b. Sering menyusui pada payudara yang
terkena.
c. Mengompres panas pada payudara yang
terkena, berendam dengan air hangat/pancuran.
d. Memijat dengan lembut setiap daerah
benjolan saat bayi menyusui untuk membantu ASI mengalir dari daerah tersebut.
e. Mencari pertolongan dari nakes bila
ibu merasa lebih baik pada keesokan harinya.
4. Perhatian dini pada kesulitan
menyusui lain
Ibu membutuhkan bantuan terlatih
dalam menyusui setiap saat ibu mengalami kesulitan yang dapat menyebabkan
statis ASI, seperti :
a. Nyeri/puting pecah-pecah. Bayi yang
tidak puas, menyusu sangat sering, jarang atau lama.
b. Kehilangan percaya diri pada suplay
ASInya, menganggap ASInya tidak cukup.
c. Pengenalan makanan lain secara dini.
d. Menggunakan dot.
5.
Pengendalian
infeksi
Petugas kesehatan dan ibu perlu
mencuci tangan secara menyeluruh dan sering sebelum dan setelah kontak dengan
bayi.Kontak kulit dini, diikuti dengan rawat gabung bayi dengan ibu merupakan
jalan penting untuk mengurangi infeksi rumah sakit.
2.8
Penatalaksanaan
Laksana mastitis dimulai dengan
memperbaiki teknik menyusui ibu. Aliran ASI yang baik merupakan hal penting
dalam tata laksana mastitis karena stasis Tata ASI merupakan masalah yang
biasanya mengawali terjadinya mastitis.Ibu dianjurkan agar lebih sering
menyusui dimulai dari payudara yang bermasalah.Tetapi bila ibu merasa sangat
nyeri, ibu dapat mulai menyusui dari sisi payudara yang sehat, kemudian
sesegera mungkin dipindahkan ke payudara bermasalah, bila sebagian ASI telah
menetes (let down) dan nyeri sudah berkurang.Posisikan bayi pada
payudara sedemikian rupa sehingga dagu atau ujung hidung berada pada tempat
yang mengalami sumbatan. Hal ini akan membantu mengalirkan ASI dari daerah
tersebut.
1.
Penggunaan obat-obatan
Meskipun
ibu menyusui sering enggan untuk mengkonsumsi obat, ibu dengan mastitis
dianjurkan untuk mengkonsumsi beberapa obat sesuai indikasi.
2.
Analgesik
Rasa
nyeri merupakan faktor penghambat produksi hormon oksitosin yang berguna dalam
proses pengeluaran ASI. Analgesik diberikan untuk mengurangi rasa nyeri pada
mastitis.Analgesik yang dianjurkan adalah obat anti inflamasi seperti
ibuprofen.Ibuprofen lebih efektif dalam menurunkan gejala yang berhubungan dengan
peradangan dibandingkan parasetamol atau asetaminofen. Ibuprofen sampai dosis
1,6 gram per hari tidak terdeteksi pada ASI sehingga direkomendasikan untuk ibu
menyusui yang mengalami mastitis.
3. Antibiotik
Jika
gejala mastitis masih ringan dan berlangsung kurang dari 24 jam, maka perawatan
konservatif (mengalirkan ASI dan perawatan suportif) sudah cukup membantu.Jika
tidak terlihat perbaikan gejala dalam 12 – 24 jam atau jika ibu tampak sakit
berat, antibiotik harus segera diberikan. Jenis antibiotik yang biasa digunakan
adalah dikloksasilin atau flukloksasilin 500 mg setiap 6 jam secara oral.
Dikloksasilin mempunyai waktu paruh yang lebih singkat dalam darah dan lebih
banyak efek sampingnya ke hati dibandingkan flukloksasilin.Pemberian per oral
lebih dianjurkan karena pemberian secara intravena sering menyebabkan
peradangan pembuluh darah.Sefaleksin biasanya aman untuk ibu hamil yang alergi
terhadap penisillin tetapi untuk kasus hipersensitif penisillin yang berat
lebih dianjurkan klindamisin.
2.9 Prognosis
Prognosis dari penyakit pada mastitis, tergantung
pada seberapa cepat dari upaya detektisi dan penanganan diri, serta penyakit
penyebab.Semakin dini upaya deteksi dan penanganannya, hasilnya akan lebihbaik
dari beberapa jenis kondisi atau penyakit.
BAB
3. PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Mastitis merupakan proses peradangan
payudara yang mungkin disertai infeksi atau tanpa infeksi. Sebagian besar
mastitis terjadi dalam 6 minggu pertama setelah bayi lahir.Diagnosis mastitis
ditegakkan bila ditemukan gejala demam, menggigil, nyeri seluruh tubuh serta
payudara menjadi kemerahan, tegang, panas dan bengkak.Beberapa faktor risiko
utama timbulnya mastitis adalah puting lecet, frekuensi menyusui yang jarang dan
pelekatan bayi yang kurang baik.Melancarkan aliran ASI merupakan hal penting
dalam tata laksana mastitis.Selain itu ibu perlu beristirahat, banyak minum,
mengkonsumsi nutrisi berimbang dan bila perlu mendapat analgesik dan
antibiotik.
3.2
Saran
Dengan terselesaikannya makalah ini
diharapkan mahasiswa Program Studi DIII Keperawatan Universitas Bondowoso dapat
memahami konsep patofisiologi mastitis dengan baik serta hubungannya dengan
ilmu keperawatan yang tengah ditekuni.Hal tersebut ditujukan agar mahasiswa
Program Studi DIII Keperawatan Universitas Bondowoso dapat memiliki kompetensi
yang tinggi dalam perawatan terhadap mastitis.Serta mampu menjalankan peranan
keperawatan baik untuk sasaran perorangan ataupun komunitas.
DAFTAR
PUSTAKA
http://bidaniaku.wordpress.com/2013/05/14/mastitis/ [diakses 11 Oktober 2014 pukul 15.00 WIB]
http://catchro.com/2010/11/gambaran-pengetahuan-ibu-post-partum.html [diakses 11 Oktober 2014 pukul 15.15 WIB]
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum/article/viewFile/4888/3674 [diakses 11 Oktober 2014 pukul 15.30 WIB]
Darland.1994.Kamus
Kedokteran.26.Jakarta:EGC