Selasa, 23 Desember 2014

contoh makalah mastitis



BAB 1. PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Salah satu upaya yang akan dilakukan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 2010 adalah meningkatkan kesehatan khususnya upaya untuk meningkatkan kesehatan ibu. Keberhasilan upaya tersebut dapat dilihat dari penurunan angka kematian ibu, karena upaya penurunan angka kematian ibu serta peningkatan derajat kesehatan ibu tetap merupakan prioritas utama dalam pembangunan kesehatan menuju tercapainya Indonesia Sehat 2010.
Masih banyak kematian ibu terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia, walaupun upaya untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) sudah banyak dilakukan tetapi hasilnya belum optimal. Sebab utama lambatnya penurunan angka kematian ibu, antara lain terlalu banyaknya kegiatan yang dilaksanakan dengan sumber daya yang terbatas dan belum optimalnya kualitas pelayanan yang disediakan baik oleh fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta. Sehingga dimasa mendatang perlu ditetapkan dan dilaksanakan kegiatan prioritas yang mempunyai dampak langsung terhadap penurunan kematian ibu berdasarkan permasalahan yang ada.
Pemerintah Indonesia mengharapkan pada tahun 2010 dapat menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup. Untuk dapat mencapai target tersebut diperlukan usaha yang tidak mudah karena berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) adalah 307 per 100.000 kelahiran hidup sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) tahun 2003  tercatat 35 per 1000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu dan bayi adalah yang tertinggi di Asia Tenggara.Pemerintah menargetkan pada tahun 2009 AKI menjadi 226 per 1000 kelahiran hidup. Sebagai penyebab kematian ibu yang terbanyak adalah  disebabkan oleh komplikasi obstetri seperti perdarahan yaitu sebesar 28 %, hipertensi  pada  kehamilan  sebesar 13 %, komplikasi abortus sebesar 11 %, infeksi / sepsis sebesar 10 % dan partus lama sebesar 9 %.
Infeksi sebagai salah satu penyebab kematian ibu dapat terjadi selama masa kehamilan, persalinan dan nifas.Salah satu bentuk infeksi yang terjadi dalam masa nifas adalah infeksi yang terjadi pada payudara yaitu mastitis.Hal ini dapat dideteksi dini, dicegah maupun ditanggulangi agar tidak terjadi komplikasi yang lebih lanjut.Komplikasi yang biasanya timbul yaitu mastitis.
Mastitis adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan biasanya mengenai payudara.Umumnya gangguan ini dialami oleh ibu-ibu yang menyusui.Biasanya muncul antara minggu kedua sampai keenam setelah persalinan.Namun, masalah ini juga dapat muncul lebih awal dari waktu tersebut atau lebih lama lagi.
Semakin disadari bahwa pengeluaran ASI yang tidak efisien akibat teknik menyusui yang tidak benar menunjukkan penyebab yang penting, tetapi dalam pikiran banyak petugas tenaga kesehatan, mastitis dianggap sama dengan infeksi payudara. Mereka sering tidak mampu membantu wanita penderita mastitis untuk menyusui yang sebenarnya tidak perlu.Ada 2 penyebab utama mastitis yaitu statis ASI yang infeksi statis ASI biasanya menunjukkan penyebab primer yang dapat disertai / berkembang menuju infeksi.
Adapun penyebab mastitis adalah cara menyusui yang kurang baik dapat menimbulkan berbagai macam masalah baik pada ibu maupun pada bayinya misalnya puting susu lecet dan nyeri, radang payudara (mastitis), pembengkakan payudara yang menyebabkan motivasi untuk memberikan ASI berkurang sehingga bayi tidak mendapatkan ASI yang cukup dan akhirnya mengakibatkan bayi kurang gizi.
Cara menyusui yang baik, penting sekali untuk keberhasilan menyusui, praktek cara menyusui yang baik dan benar perlu dipelajari oleh setiap ibu karena menyusui itu bukan salah satu hal yang reflektif dan instingtif, tetapi merupakan suatu proses. Proses menyusui yang baik bukan hanya untuk ibu yang baru pertama kali melahirkan, tetapi juga untuk ibu yang pernah menyusui anaknya.
Studi terbaru menunjukkan kasus mastitis meningkat hingga 12 – 35 % pada ibu yang puting susunya pecah-pecah dan tidak diobati dengan antibiotik.Namun bila minum obat antibiotik pada saat puting susunya bermasalah kemungkinan untuk terkena mastitis hanya sekitar 5 % saja. Menurut penelitian Jane A. Morton, MD tahun 2002,bahwa kasus mastitis terjadi pada tahun pertama sesuai persalinan yakni sekitar 17,4 % dan sekitar 41 %. Kasus mastitis justru terjadi pada bulan pertama setelah melahirkan.
Penelitian terbaru menyatakan bahwa mastitis dapat meningkatkan risiko penularan HIV melalui menyusui. Mastitis dan abses payudara dapat terjadi pada semua populasi, dengan tanpa kebiasaan menyusui, tetapi biasanya dibawah 10 % sebagian besar laporan menunjukkan bahwa 75 % sampai 95 % kasus terjadi dalam 12 minggu pertama.
Berdasarkan hasil penelitian persentasi cakupan perempuan menyusui dengan mastitis di Amerika Serikat dari tahun 1994 – 1998 terdapat ibu post partum didapatkan 9,5 % melaporkan dirinya mastitis.
Menurut data WHO Indonesia sebagai salah satu negara berkembang di dunia cakupan persentasi kasus mastitis pada perempuan menyusui juga mencapai 10 %. Sedangkan Angka Kematian Ibu di Jawa Tengah pada tahun 2007 yaitu 116,3 per kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi 10,9 per kelahiran hidup.

1.2              Tujuan
Penulis makalah ini memiliki beberapa tujuan, antara lain:
1)      Mengetahui konsep dari penyakit mastitis yang menyerang payudara.
2)      Mempelajari patofisiologi gambaran penyakit mastitis secara menyeluruh.
3)      Mengetahui implikasi patosiologi penyakit mastitis dalam bidang keperawatan dan peranan keperawatan terhadap penyakit tersebut.
1.3              Manfaat
1)      Dapat memahami konsep mastitis yang menyerang payudara.
2)      Dapat memahami Patofisiologi gambaran penyakit mastitis secara menyeluruh.
3)      Dapat menjalankan implikasi patofisiologi mastitis dalam bidang keperawatan dan dapat memahami peranan keperawatan dalam menghadapi penyakit tersebut.   
























BAB 2. KONSEP PENYAKIT

2.1              Definisi
Mastitis adalah peradangan pada payudara yang dapat disertai infeksi atau tidak, yang disebabkan oleh kuman terutama Staphylococcus aureus melalui luka pada puting susu atau melalui peredaran darah. Penyakit ini biasanya menyertai laktasi, sehingga disebut juga mastitis laktasional atau mastitis puerperalis. Infeksi terjadi melalui luka pada puting susu, tetapi mungkin juga melalui peredaran darah. Kadang-kadang keadaan ini bisa menjadi fatal bila tidak diberi tindakan yang adekuat.
Abses payudara, penggumpalan nanah lokal di dalam payudara, merupakan komplikasi berat dari mastitis. Macam-macam mastitis dibedakan berdasarkan tempatnya serta berdasarkan penyebab dan kondisinya.Mastitis berdasarkan tempatnya dibedakan menjadi 3, yaitu:
a.         Mastitis yang menyebabkan abses di bawah areola mammae
b.         Mastitis di tengah-tengah mammae yang menyebabkan abses di tempat itu
c.         Mastitis pada jaringan di bawah dorsal dari kelenjar-kelenjar yang menyebabkan abses antara mammae dan otot-otot di bawahnya.
Sedangkan pembagian mastitis menurut  kondisinya dibagi pula menjadi 3, yaitu :
a.         Mastitis periductal
Mastitis periductal biasanya muncul pada wanita di usia menjelang menopause, penyebab utamanya tidak jelas diketahui. Keadaan ini dikenal juga dengan sebutan mammary duct ectasia, yang berarti peleburan saluran karena adanya penyumbatan pada saluran di payudara.
b.         Mastitis puerperalis/lactational
Mastitis puerperalis banyak dialami oleh wanita hamil atau menyusui.Penyebab utama mastitis puerperalis yaitu kuman yang menginfeksi payudara ibu, yang ditransmisi ke puting ibu melalui kontak langsung.
c.         Mastitis supurativa
Mastitis supurativa paling banyak dijumpai.Penyebabnya bisa dari kuman Staphylococcus, jamur, kuman TBC dan juga sifilis.Infeksi kuman TBC memerlukan penanganan yang ekstra intensif.Bila penanganannya tidak tuntas, bisa menyebabkan pengangkatan payudara/mastektomi.
Berdasarkan etiloginya:
a.       Mastitis karena stasis ASI/ non infeksiosa
b.      Mastitis infeksiosaà yang paling sering adalah Staphylococcus aureus dan Streptococcus.
Klasifikasi lain:
a.       Mastitis puerperalis epidemic
b.      Mastitis monensiosa
c.       Mastitis sublkinis
d.      Mastitis tuberkulosis

2.2              Etimologi
Penyebab utama mastitis adalah statis ASI dan infeksi.Statis ASI biasanya merupakan penyebab primer yang dapat disertai atau menyebabkan infeksi.
1.      Statis ASI
Statis ASI terjadi jika ASI tidak dikeluarkan dengan efisien dari payudara. Hal ini terjadi jika payudara terbendung segera setelah melahirkan, atau setiap saat jika bayi tidak mengisap ASI, kenyutan bayi yang buruk pada payudara, pengisapan yang tidak efektif, pembatasan frekuensi/durasi menyusui, sumbatan pada saluran ASI, suplai ASI yang sangat berlebihan dan menyusui untuk kembar dua/lebih.

2.      Infeksi
Organismen yang paling sering ditemukan pada mastitis dan abses payudara adalah organisme koagulase-positif Staphylococcus aureus dan Staphylococcus albus.Escherichia coli dan Streptococcus kadang-kadang juga ditemukan.Mastitis jarang ditemukan sebagai komplikasi demam tifoid.

2.3                   Epidemiologi
a.       Insiden
Penelitian di seluruh dunia dalam 10 tahun terakhir menunjukkan kejadian mastitis laktasi berkisar 4-27% wanita menyusui tergantung pada metode, terutama subjek seleksi, yang digunakan dalam studi ini. Mastitis terjadi pada semua populasi, dengan atau tanpa kebiasaan menyusui.Insiden yang di laporkan bervariasidari sedikit sampai 33% wanita menyusui, tetapi biasanya di bawah 10%.
b.      Mula Timbul
Mastitis laktasi dapat berkembang pada minggu-minggu awal pasca kelahiran setelah ibu meninggalkan rumah sakit. Mastitis paling sering terjadi pada minggu kedua dan ketiga pasca kelahiran, dengan sebagian besar laporan menunjukkan bahwa 74% sampai 95% kasus terjadi dalam 12 minggu pertama. Namun sekitar sepertiga dari kasusu-kasus ibu menyusui jangka panjang terjadi setelah bayi berusia 6 blan.

2.4                   Patogenesisi/Patofisiologi
Stasis ASI peningkatan tekanan duktusàjika ASI tidak segera dikeluarkanàpeningkatan tegangan alveoli yang berlebihanàsel epitel yang memproduksi ASI menjadi datar dan tertekanàpermeabilitas jaringan ikat meningkatàbeberapa komponen(terutama protein dan kekebalan tubuh dan natrium) yang retak ke kelenjar limfe sekitar duktus/ periduktal dan secara hematogen.dari plasma masuk ke dalam ASI dan jaringan sekitar selàmemicu rrespon imunàrespon inflmasiàkerusakan jaringanàmempermudah terjadinya infeksi (Staohylococcus aureus dan Sterptococcus) àdari port d’ entry yaitu: duktus laktiferus ke lobus sekresi dan putting.
Terjadinya mastitis diawali dengan peningkatan tekanan di dalam duktus (saluran ASI) akibat stasis ASI.Bila ASI tidak segera dikeluarkan maka terjadi tegangan alveoli yang berlebihan dan mengakibatkan sel epitel yang memproduksi ASI menjadi datar dan tertekan, sehingga permeabilitas jaringan ikat meningkat.Beberapa komponen (terutama protein kekebalan tubuh dan natrium) dari plasma masuk ke dalam ASI dan selanjutnya ke jaringan sekitar sel sehingga memicu respons imun.Stasis ASI, adanya respons inflamasi, dan kerusakan jaringan memudahkan terjadinya infeksi.
Terdapat beberapa cara masuknya kuman yaitu melalui duktus laktiferus ke lobus sekresi, melalui puting yang retak ke kelenjar limfe sekitar duktus (periduktal) atau melalui penyebaran hematogen  pembuluh darah). Organisme yang paling sering adalah Staphylococcus aureus, Escherecia coli dan Streptococcus.Kadang-kadang ditemukan pula mastitis tuberkulosis yang menyebabkan bayi dapat menderita tuberkulosa tonsil.Pada daerah endemis tuberkulosa kejadian mastitis tuberkulosis mencapai 1%.

2.5              Manifestasi Klinis
1.         Gejala mastitis infeksiosa
a.         Lemah, mialgia, nyeri kepala seperti gejala flu dan ada juga yang di sertai takikardia
b.        Demam suhu > 38,5 derajat celcius
c.         Ada luka pada puting  payudara
d.        Kulit payudara kemerahan atau mengkilat
e.         Terasa keras dan tegang
f.         Payudara membengkak, mengeras, lebih hangat, kemerahan yang berbatas tegas
g.        Peningkatan kadar natrium sehingga bayi tidak mau menyusu karena ASI yang terasa asin
2.         Gejala mastitis non infeksiosa
a.         Adanya bercak panas/nyeri tekan yang akut
b.        Bercak kecil keras yang nyeri tekan saja
c.         Tidak ada demam dan ibu masih merasa naik-baik.

2.6              Komplikasi
1.      Penghentian menyusui dini
Mastitis dapat menimbulkan berbagai gejala akut yang membuat seorang ibu memutuskan untuk berhenti menyusui.Penghentian menyusui secara mendadak dapat meningkatkan risiko terjadinya abses.Selain itu ibu juga khawatir kalau obat yang mereka konsumsi tidak aman untuk bayi mereka.Oleh karena itu penatalaksanaan yang efektif, informasi yang jelas dan dukungan tenaga kesehatan dan keluarga sangat diperlukan saat ini.
2.      Abses
Abses merupakan komplikasi mastitis yang biasanya terjadi karena pengobatan terlambat atau tidak adekuat. Bila terdapat daerah payudara teraba keras , merah dan tegang walaupun ibu telah diterapi, maka kita harus pikirkan kemungkinan terjadinya abses. Kurang lebih 3% dari kejadian mastitis berlanjut menjadi abses.Pemeriksaan USG payudara diperlukan untuk mengidentifikasi adanya cairan yang terkumpul.Cairan ini dapat dikeluarkan dengan aspirasi jarum halus yang berfungsi sebagai diagnostik sekaligus terapi, bahkan mungkin diperlukan aspirasi jarum secara serial.Pada abses yang sangat besar terkadang diperlukan tindakan bedah.Selama tindakan ini dilakukan ibu harus mendapat antibiotik.ASI dari sekitar tempat abses juga perlu dikultur agar antibiotik yang diberikan sesuai dengan jenis kumannya.
3.      Mastitis berulang/kronis
Mastitis berulang biasanya disebabkan karena pengobatan terlambat atau tidak adekuat.Ibu harus benar-benar beristirahat, banyak minum, makanan dengan gizi berimbang, serta mengatasi stress. Pada kasus mastitis berulang karena infeksi bakteri diberikan antibiotik dosis rendah (eritromisin 500 mg sekali sehari) selama masa menyusui
4.      Infeksi jamur
Komplikasi sekunder pada mastitis berulang adalah infeksi oleh jamur seperti candida albicans.Keadaan ini sering ditemukan setelah ibu mendapat terapi antibiotik.Infeksi jamur biasanya didiagnosis berdasarkan nyeri berupa rasa terbakar yang menjalar di sepanjang saluran ASI.Di antara waktu menyusu permukaan payudara terasa gatal.Puting mungkin tidak nampak kelainan.Ibu dan bayi perlu diobati. Pengobatan terbaik adalah mengoles nistatin krem yang juga mengandung kortison ke puting dan areola setiap selesai bayi menyusu dan bayi juga harus diberi nistatin oral pada saat yang sama.

2.7              Pencegahan
1.      Perbaikan pemahaman penatalaksanaan menyusui
a.       Menyusui sidini mungkin setelah melahirkan
b.      Menyusui dengan posisi yang benar
c.       Memberikan ASI On Demand dan memberikan ASI eklusif
d.      Makan dengan gizi yang seimbang
Hal-hal yang mengaggu proses menyusui, membatasi, mengurangi isapan proses menyusui dan meningkatkan statis ASI antara lain :
a.         Pengunaan dot
b.         Pemberian minuman lain pada bayi pada bulan-bulan pertama
c.         Tindakan melepaskan mulut bayi dari payudara pertama sebelum ia siap untuk menghisap payudara yang lain.
d.        Beban kerja yang berat atau penuh tekanan
e.         Kealpaan menyusui bila bayi mulai tidur sepanjang malam
f.          Trauma payudara karena tindakan kekerasan atau penyebab lain.
2.      Penatalaksaan yang efektif pada payudara yang penuh dan kencang
Hal-hal yang harus dilakukan yaitu :
a.       Ibu harus dibantu untuk memperbaiki kenyutan pada payudara oleh bayinya untuk memperbaiki pengeluaran ASI serta mencegah luka pada punting susu.
b.      Ibu harus didorong untuk menyusui sesering mungkin dan selama bayi menghendaki tanpa batas.
c.       Perawatan payudara dengan dikompres dengan air hangat dan pemerasan ASI.
3.      Perhatian dini terhadap semua tanda statis ASI
Ibu harus memeriksa payudaranya untuk melihat adanya benjolan, nyeri/panas/kemerahan :
a.    Bila ibu mempunyai salah satu faktor resiko, seperti kealpaan menyusui.
b.    Bila ibu mengalami demam/merasa sakit, seperti sakit kepala.
Bila ibu mempunyai satu dari tanda-tanda tersebut, maka ibu perlu untuk :
a.       Beristirahat, di tempat tidur bila mungkin.
b.      Sering menyusui pada payudara yang terkena.
c.       Mengompres panas pada payudara yang terkena, berendam dengan air hangat/pancuran.
d.      Memijat dengan lembut setiap daerah benjolan saat bayi menyusui untuk membantu ASI mengalir dari daerah tersebut.
e.       Mencari pertolongan dari nakes bila ibu merasa lebih baik pada keesokan harinya.
4.      Perhatian dini pada kesulitan menyusui lain
Ibu membutuhkan bantuan terlatih dalam menyusui setiap saat ibu mengalami kesulitan yang dapat menyebabkan statis ASI, seperti :
a.       Nyeri/puting pecah-pecah. Bayi yang tidak puas, menyusu sangat sering, jarang atau lama.
b.      Kehilangan percaya diri pada suplay ASInya, menganggap ASInya tidak cukup.
c.       Pengenalan makanan lain secara dini.
d.      Menggunakan dot.
5.         Pengendalian infeksi
Petugas kesehatan dan ibu perlu mencuci tangan secara menyeluruh dan sering sebelum dan setelah kontak dengan bayi.Kontak kulit dini, diikuti dengan rawat gabung bayi dengan ibu merupakan jalan penting untuk mengurangi infeksi rumah sakit.

2.8              Penatalaksanaan
Laksana mastitis dimulai dengan memperbaiki teknik menyusui ibu. Aliran ASI yang baik merupakan hal penting dalam tata laksana mastitis karena stasis Tata ASI merupakan masalah yang biasanya mengawali terjadinya mastitis.Ibu dianjurkan agar lebih sering menyusui dimulai dari payudara yang bermasalah.Tetapi bila ibu merasa sangat nyeri, ibu dapat mulai menyusui dari sisi payudara yang sehat, kemudian sesegera mungkin dipindahkan ke payudara bermasalah, bila sebagian ASI telah menetes (let down) dan nyeri sudah berkurang.Posisikan bayi pada payudara sedemikian rupa sehingga dagu atau ujung hidung berada pada tempat yang mengalami sumbatan. Hal ini akan membantu mengalirkan ASI dari daerah tersebut.
1.         Penggunaan obat-obatan
Meskipun ibu menyusui sering enggan untuk mengkonsumsi obat, ibu dengan mastitis dianjurkan untuk mengkonsumsi beberapa obat sesuai indikasi.
2.         Analgesik
Rasa nyeri merupakan faktor penghambat produksi hormon oksitosin yang berguna dalam proses pengeluaran ASI. Analgesik diberikan untuk mengurangi rasa nyeri pada mastitis.Analgesik yang dianjurkan adalah obat anti inflamasi seperti ibuprofen.Ibuprofen lebih efektif dalam menurunkan gejala yang berhubungan dengan peradangan dibandingkan parasetamol atau asetaminofen. Ibuprofen sampai dosis 1,6 gram per hari tidak terdeteksi pada ASI sehingga direkomendasikan untuk ibu menyusui yang mengalami mastitis.
3.      Antibiotik
Jika gejala mastitis masih ringan dan berlangsung kurang dari 24 jam, maka perawatan konservatif (mengalirkan ASI dan perawatan suportif) sudah cukup membantu.Jika tidak terlihat perbaikan gejala dalam 12 – 24 jam atau jika ibu tampak sakit berat, antibiotik harus segera diberikan. Jenis antibiotik yang biasa digunakan adalah dikloksasilin atau flukloksasilin 500 mg setiap 6 jam secara oral. Dikloksasilin mempunyai waktu paruh yang lebih singkat dalam darah dan lebih banyak efek sampingnya ke hati dibandingkan flukloksasilin.Pemberian per oral lebih dianjurkan karena pemberian secara intravena sering menyebabkan peradangan pembuluh darah.Sefaleksin biasanya aman untuk ibu hamil yang alergi terhadap penisillin tetapi untuk kasus hipersensitif penisillin yang berat lebih dianjurkan klindamisin.

2.9       Prognosis
Prognosis dari penyakit pada mastitis, tergantung pada seberapa cepat dari upaya detektisi dan penanganan diri, serta penyakit penyebab.Semakin dini upaya deteksi dan penanganannya, hasilnya akan lebihbaik dari beberapa jenis kondisi atau penyakit.





BAB 3. PENUTUP

3.1              Kesimpulan
Mastitis merupakan proses peradangan payudara yang mungkin disertai infeksi atau tanpa infeksi. Sebagian besar mastitis terjadi dalam 6 minggu pertama setelah bayi lahir.Diagnosis mastitis ditegakkan bila ditemukan gejala demam, menggigil, nyeri seluruh tubuh serta payudara menjadi kemerahan, tegang, panas dan bengkak.Beberapa faktor risiko utama timbulnya mastitis adalah puting lecet, frekuensi menyusui yang jarang dan pelekatan bayi yang kurang baik.Melancarkan aliran ASI merupakan hal penting dalam tata laksana mastitis.Selain itu ibu perlu beristirahat, banyak minum, mengkonsumsi nutrisi berimbang dan bila perlu mendapat analgesik dan antibiotik.

3.2              Saran
Dengan terselesaikannya makalah ini diharapkan mahasiswa Program Studi DIII Keperawatan Universitas Bondowoso dapat memahami konsep patofisiologi mastitis dengan baik serta hubungannya dengan ilmu keperawatan yang tengah ditekuni.Hal tersebut ditujukan agar mahasiswa Program Studi DIII Keperawatan Universitas Bondowoso dapat memiliki kompetensi yang tinggi dalam perawatan terhadap mastitis.Serta mampu menjalankan peranan keperawatan baik untuk sasaran perorangan ataupun komunitas.








DAFTAR PUSTAKA
http://bidaniaku.wordpress.com/2013/05/14/mastitis/ [diakses  11 Oktober 2014 pukul 15.00 WIB]
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum/article/viewFile/4888/3674 [diakses 11 Oktober 2014 pukul 15.30 WIB]
Darland.1994.Kamus Kedokteran.26.Jakarta:EGC





















                                                                                                                    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar